Sinopsis Dragon Ball ZERO Chapter 2
Turles kemudian mendeteksi daya tempur Kakarotto menggunakan scouternya. Scouter menunjukkan angka 2. Tentu saja ini karena Kakarotto masih bayi. Satu hal yang membuat Turles heran, adik kandung Raditz tersebut memiliki wajah yang sangat mirip dengannya. Tiba-tiba salah seorang anak buah Freiza datang menghampiri Raditz. Menurutnya, Freiza berencana akan mengirim Kakarotto untuk menghancurkan sebuah planet biru yang bernama "Bumi" ! Turles sangat ingin mengunjunginya nanti, tetapi tidak bagi Raditz. Dia tampak tidak peduli pada adik kandungnya sendiri. Merekapun kembali melanjutkan perjalanannya.
Dalam perjalanannya di koridor, mereka melihat Bardock, ayah kandung Raditz. Pertemuan ini sungguh tidak terduga bagi Raditz. Kemudian terjadi perbincangan singkat antara ayah dan anak ini. Turles juga memberitahukan paman Bardock bahwa mereka bertiga akan menyerang planet lain. Mendengar itu, Bardock segera memberikan gelang tangan kanannya pada Raditz. Bardock mengatakan bahwa suatu saat nanti akan tiba saatnya bagi dia dan Raditz menyerang planet bersama-sama. Ucapan itu membuat Raditz kembali bersemangat. Namun siapa sangka, bahwa pertemuan itu merupakan yang terakhir kalinya bagi keduanya.
Bangsa Saiyan memang merupakan para prajurit yang dilahirkan untuk bertempur. Sejak lahir mereka langsung menjadi prajurit penting dalam pasukan Freiza. Cara kerja bangsa saiyan dalam pasukan Freiza adalah memutuskan sendiri apa yang akan dilakukannya, namun Freiza tidak menyukai cara kerja seperti itu. Freiza kemudian memerintahkan pasukannya untuk memusnahkan semua bangsa saiyan.
Menjelang keberangkatannya ke Planet Meat, secara tidak sengaja Bardock mendengar percakapan 2 orang anak buah Freiza. Mereka membahas kegagalan pasukan Ginyu dalam menaklukkan para penduduk planet Desset. Mereka ingin mengirim seseorang untuk memeriksa planet itu, tetapi siapa orang yang berani mati mengunjungi planet Desset tersebut. Bardock kemudian memberi jawaban dari pertanyaan mereka berdua, Bardock lah yang akan memeriksa planet Desset nantinya setelah dia membereskan planet Meat.
Di waktu yang bersamaan, Freiza mulai menjalankan rencana mengerikannya tersebut, rencana pemusnahan bangsa saiyan. Dia telah mengirim pasukannya untuk membunuh tiap bangsa saiyan yang sedang menaklukkan planet-planet lain. Tanpa ampun, mereka semua dibunuh secara mengenaskan di planet yang mereka taklukkan.
Di lain tempat, kelompok Raditz harus berjuang mati-matian dalam menaklukkan para penduduk suatu planet. Para penduduk planet tersebut sangatlah kuat dan menyerupai monster raksasa. Raditz dan timnya tampak kepayahan menghadapinya, bahkan salah seorang teman mereka yang bernama Rycello sudah tewas terbunuh. Masih belum diketahui pasti planet apa yang didatangi Raditz dan kelompoknya ini.
Dalam suatu kesempatan, monster-monster itu malah justru berbalik menyerang dan mengejar Raditz dan Turles. Di saat itulah, kaki Turles tersandung. Salah satu monster siap menginjak tubuh Turles yang terkapar. Bagaimanakah nasib Turles selanjutnya ???
Turles kemudian mendeteksi daya tempur Kakarotto menggunakan scouternya. Scouter menunjukkan angka 2. Tentu saja ini karena Kakarotto masih bayi. Satu hal yang membuat Turles heran, adik kandung Raditz tersebut memiliki wajah yang sangat mirip dengannya. Tiba-tiba salah seorang anak buah Freiza datang menghampiri Raditz. Menurutnya, Freiza berencana akan mengirim Kakarotto untuk menghancurkan sebuah planet biru yang bernama "Bumi" ! Turles sangat ingin mengunjunginya nanti, tetapi tidak bagi Raditz. Dia tampak tidak peduli pada adik kandungnya sendiri. Merekapun kembali melanjutkan perjalanannya.
Dalam perjalanannya di koridor, mereka melihat Bardock, ayah kandung Raditz. Pertemuan ini sungguh tidak terduga bagi Raditz. Kemudian terjadi perbincangan singkat antara ayah dan anak ini. Turles juga memberitahukan paman Bardock bahwa mereka bertiga akan menyerang planet lain. Mendengar itu, Bardock segera memberikan gelang tangan kanannya pada Raditz. Bardock mengatakan bahwa suatu saat nanti akan tiba saatnya bagi dia dan Raditz menyerang planet bersama-sama. Ucapan itu membuat Raditz kembali bersemangat. Namun siapa sangka, bahwa pertemuan itu merupakan yang terakhir kalinya bagi keduanya.
Bangsa Saiyan memang merupakan para prajurit yang dilahirkan untuk bertempur. Sejak lahir mereka langsung menjadi prajurit penting dalam pasukan Freiza. Cara kerja bangsa saiyan dalam pasukan Freiza adalah memutuskan sendiri apa yang akan dilakukannya, namun Freiza tidak menyukai cara kerja seperti itu. Freiza kemudian memerintahkan pasukannya untuk memusnahkan semua bangsa saiyan.
Menjelang keberangkatannya ke Planet Meat, secara tidak sengaja Bardock mendengar percakapan 2 orang anak buah Freiza. Mereka membahas kegagalan pasukan Ginyu dalam menaklukkan para penduduk planet Desset. Mereka ingin mengirim seseorang untuk memeriksa planet itu, tetapi siapa orang yang berani mati mengunjungi planet Desset tersebut. Bardock kemudian memberi jawaban dari pertanyaan mereka berdua, Bardock lah yang akan memeriksa planet Desset nantinya setelah dia membereskan planet Meat.
Di waktu yang bersamaan, Freiza mulai menjalankan rencana mengerikannya tersebut, rencana pemusnahan bangsa saiyan. Dia telah mengirim pasukannya untuk membunuh tiap bangsa saiyan yang sedang menaklukkan planet-planet lain. Tanpa ampun, mereka semua dibunuh secara mengenaskan di planet yang mereka taklukkan.
Di lain tempat, kelompok Raditz harus berjuang mati-matian dalam menaklukkan para penduduk suatu planet. Para penduduk planet tersebut sangatlah kuat dan menyerupai monster raksasa. Raditz dan timnya tampak kepayahan menghadapinya, bahkan salah seorang teman mereka yang bernama Rycello sudah tewas terbunuh. Masih belum diketahui pasti planet apa yang didatangi Raditz dan kelompoknya ini.
Dalam suatu kesempatan, monster-monster itu malah justru berbalik menyerang dan mengejar Raditz dan Turles. Di saat itulah, kaki Turles tersandung. Salah satu monster siap menginjak tubuh Turles yang terkapar. Bagaimanakah nasib Turles selanjutnya ???

0 komentar: